Komik Indonesia yang Mulai Ditinggalkan

Sebenarnya postingan saya ini merupakan ungkapan atas kejadian akhir-akhir ini yang menjadi isu nasional kita sebagai bangsa Indonesia, apalagi kalau bukan masalah budaya. Ya benar, negara tetangga kita beberapa kali telah membuat “klaim” (klaim disini sengaja saya beri tanda petik) atas hasil budaya Indonesia, seperti dahulu angklung, batik, wayang kulit dan terakhir perihal tari pendet. Jika teringat wayang kulit, sayapun teringat akan koleksi komik wayang di perpustakaan rumah yang mulai saya kumpulkan sejak masa-masa SMP hingga saat ini. Saya masih ingat ketika kecil, sekitar tahun 1994 mungkin, di TPI/TVRI dahulu ditayangkan secara berseri sebuah epik dari India yang berjudul “Mahabharata”. Berawal dari sanalah saya mulai mencari-cari komik Mahabharata itu. Kebetulan orang tua saya juga penikmat wayang kulit maupun wayang golek (mungkin menurun kepada saya :D), dari film itulah saya mulai bertanya kepada orang tua, siapa itu Arjuna, siapa itu Yudhistira, siapa itu Sikandhi.

Ketika menginjak masa-masa SMP, dengan berbekal uang yang pas-pasan, sayapun mulai bergeriliya mencari Mahabharata kesukaan saya sejak kecil itu. Uang jajan yang pas-pasan bagi saya bukan alasan untuk tidak membeli komik tersebut. Pada kelas 2 SMP itulah pertama kali saya secara resmi berkenalan dengan Mahabharata jilid A karangan R.A. Kosasih, komik Indonesia pertama yang saya beli dengan harga 5000 ini dalam kondisi sangat buruk, halamnnya banyak yang copot dan warna kertas bercampur karbon mungkin yang membuat buruk, tapi hal itu bagi saya bukan alasan😀

Komik Mahabharata Pertama

Komik Mahabharata Pertama

Tampak belakang

Tampak belakang

Setelah cukup membeli dengan mengorbankan uang jajan, maka nikmat menikmatipun segera dilaksanakan. Namanya juga komik lamas, tentu saja banyak halaman yang protol tapi bagi saya disanalah seninya, seni karena murah😀, khatam jilid A ini, sayapun mendengar bahwa komik Mahabharata ada yang telah diberi ilustrasi berwarna, yaitu karangannya Teguh Santosa, dan alhamdulillah sayapun mendapatkannya. Zaman segitu komik-komik Jepang belum begitu booming di Indonesia.

Komik Mahabharata Berwarna Pertama di Indonesia

Komik Mahabharata Berwarna Pertama di Indonesia

Komik Mahabharata Berwana Bagian Dalam

Komik Mahabharata Berwana Bagian Dalam

Zaman rupanya telah berubah. Rupanya para generasi muda kita agaknya telah lupa (bukan melupakan) tentang warisan ini. Komik-komik dari Amerika dan Jepangpun berdatangan ke Indonesia. Mulai dari Captain America, The Flash hingga Doraemonpun membanjiri pasaran. Tergeser sudah komik-komik lokal Indonesia yang harus kita akui memang bagi generasi sekarang hal itu secara desain tidak begitu mengasyikkan ketimbang komik dari luar. Melihat kondisi yang demikian ini (kurangnya perhatian baik dari pemerintah sendiri tentang keberadaan komik Indonesia ini) maka kita tidak dapat menyalahkan 100% jika suatu saat komik-komik kitapun akan diklaim. Bayangkan saja, jika ada suatu negara yang membaca komik lokal kita, membawa ke negaranya, menerjemahkan ke dalam bahasa mereka dan mendesain ulang komik kita dan MENGKLAIM pula, mau jawab apa kita?, saya sangat bersykur dikemudian hari PT. Elexmedia ternyata menyetak ulang komik kedalam genre masa kini, baik secara desain, warna, dan sebagainya

Komik Ramayana Edisi Baru

Komik Ramayana Edisi Baru

Komik Mahabharata Edisi Baru

Komik Mahabharata Edisi Baru

Itulah secarik pemikiran saya pribadi tentang komik lokal Indonesia yang kian hari kian hilang dari ingatan generasi muda kita di Indonesia. Jangan kaget jika suatu ketika anak atau bahkan cucu anda tidak mengerti budaya bangsanya sendiri, dan jangan kaget ketika mereka ditanya “Nak…Arjuna itu siapa?” mereka jawab “Arjuna itu apa pak??”. Kita juga jangan lekas naik pitam jika budaya kita klaim oleh negara tetangga, seharusnya kita bercermin apakah kita sudah merawat dan melestarikannya, jangan nasionalisme sempit hinggap ditubuh kita, dalam artikel selanjutnya, saya akan membahas komik tersebut satu per satu. Bersambung pada “Wayang Purwa“..

NB: Foto diatas silahkan jika ada yang ingin mengopy, tapi setidaknya cantumkanlah link blog ini dalam pengutipannya, hargai jerih payah saya membayar listrik untuk mencharge batrei kamera saya yang digunakan memfoto komik-komik diatas. 😀

12 thoughts on “Komik Indonesia yang Mulai Ditinggalkan

  1. doni

    Sebenarnya kalau menurut pendapat pribadiku, cerita-cerita yang dibuat oleh para komikus Indonesia terlalu itu-itu aja dan monoton. Dan ini bisa aku lihat dari pakaian para tokohnya, dan ceritanya.
    Coba misalnya memang kisah mahabarata, tapi mbok ya pakaiannya sedikit beda, misalnya menyesuaikan dengan zaman sekarang, atau pake model yang aneh lainnya, dan ceritanya tidak harus sama persis dengan kisah aslinya, tapi dibumbui cerita-cerita yang keren, paling tidak seperti ceritanya Legenda Naga.
    Cerita Legenda Naga itukan cerita legenda, tapi bumbu ceritanya sangat kuat sehingga yang membaca jadi penasaran. Dan menurutku, komik-komik yang ada di Indonesia tidak memiliki beberapa faktor, yaitu:
    1. Faktor fun, karena jelas nggak ada faktor fun dalam setiap komik indonesia, melainkan hanya sekedar “inilah komik” dan selesai.

    2. Faktor kostum, kostumnya gitu-gitu doang, padahal seorang karakter itu butuh kostum, masa’ sih pada jaman dulu hanya pake kemben dan kain sarung aja? Tentunya tidak, bahkan para bangsawan dulu pakaiannya bagus2.

    3. Faktor berkembang, komik indonesia itu tidak bisa mengembangkan ceritanya agar menarik. Coba deh, lihat mana sih ceritanya yang bisa berkembang? Nggak ada, mungkin juga karena budget, mungkin juga karena kurang promosi.

    4. Kurang faktor pengetahuannya, kebanyakan komik2 seperti super hero, ataupun komik2 yang membutuhkan fokus berfikir sedikit banyak memberitahukan pengetahuan-pengetahuan. Kita bisa lihat komik sekelas superman bisa memberitahukan apa itu radio aktif, atau seperti detektif conan yang sarat dengan pengetahuan umum, harusnya informasi pengetahuan umum itu ada walaupun itu cerita fiksi.

    5. Faktor penerbit. Banyak penerbit-penerbit yang menurutku tidak melihat pasar. Mereka ingin komik2 Indonesia yang menceritakan Indonesia, dan memberitahukan tentang Indonesia, namun mereka juga kurang faham bahwa di jaman ini, para penyuka komik sudah tidak berminat dengan hal itu, kalau dulu sebelum komik2 luar negeri masuk, mungkin hal itu bisa, tapi setelah komik2 luar negeri masuk, mereka harus jeli melihat pasar.

    6. Faktor pembuat, faktor ini yang juga harus dibenahi. mereka yang membuat komik takut kalau2 karyanya meniru ataupun menjiplak, makanya mereka bereksperimen membuat karakter yang paling tidak belum pernah ada sebelumnya, hal ini yang membuat mereka salah pengertian. Misalnya bentuk gambarannya sama, atau mirip, namun ceritanya berbeda, maka itu tidak masalah. Bahkan komikus-komikus ternama seperti Taito Kubo sendiri berkata kalau dia banyak belajar dari Akira Toriyama. Kita bisa lihat bagaimana kreasi anak-anak Indonesia yang mereka menggambar tokohnya sangat sulit, dan memang mereka mempersulit diri, padahal tak perlu seperti itu.

    Well, mungkin itu yang bisa aku berikan masukan.

    Reply
  2. Seika

    Brain drain komikus mulai ada kan ?
    Bukan yang sekedar pekerja tanpa wajah (yang namanya cuma satu di antara seabrek staf) tapi sebagai komikus.

    Faktor pembuat yang dibilang Doni juga salah satunya kali. Kalau di forum dulu sering liat sekalinya keluar dikatain “niru”, latah karena keseringan liat produk bajakan kali.

    Soal penerbit, gimana ya. Tertekan butuh pemasukan yang udah matang sih. Mau yang pasti laku, tapi susah waktu sama anggaran untuk mendidik ulang pasarnya biar mau nerima. Ada label Koloni Komik yang nerbitin komik lokal sih, tinggal liat itu misal dalam setahun ke depan gimana perkembangannya.

    Reply
  3. samsoe-ma

    saya “orang tua” yang hidup dengan komik wayang tahun 1960an, masa-lalu bukan untuk apa… mungkin bisa dipakai cermin saja. Betapa hebatnya (saya memuji) komik masa itu. Komik wayang dengan Ardisoma(kata saya, yang terbaik)-RA Kosasih- Oerip-AR-Rosady-Na Giok Liang—atau KOmik Medan dengan Taguan Hardjo (terbaik untuk komik Medan), Zam Nuldyn, Djas, Bahzar (ada juga wayangnya). Cuma saya “hanya bisa mikir” kenapa Superman komiknya bertahan sampai sekarang…. atau Donal Duck, malah jadi majalah Donal Bebek. Komik wayang diterbitkan oleh elex-media (mahabharata-ramayana-wayang Purwa) seperti komik jepang, saya merasa komik itu kehilangan”ruh”…. Selamat

    Reply
  4. Deva

    Jika ingin tahu inti sebenarnya mahabrata, janganlah sok tahu tentang mahabrata apa lagi setiap ceritanya dibelokkan ke arah yang salah, Apa lagi cerita ini tidak boleh sembarang dikarang atau dibuat, cerita ini memerlukan kehendak Dewa Siwa , Dewa Ganesha , Bhagawan Byasa , Sri Krishna , Kurusetra , Para Pandawa dan Bhisma

    Reply
    1. Deva

      Aku juga ingin menambahkan sesuatu : Cerita Mahabrata hanya boleh dikarang bila pengarang itu mengikuti seperti yang ada di Kitab Veda dan ingat ! Cerita ini bertentangan dengan Tuhan Sri Krishna dan Pandawa maka dari karena itulah erita ini tidak boleh sembarang dikarang , dikutip atau dibelokkan ke arah yang salah !

      Reply
  5. Deva

    Cerita dari India ini tidak boleh dikarang sembarangan,Cerita Mahabrata hanya boleh dibuat bila :
    1.Pengarang dari Agama Hindu
    2.Cerita harus sama dengan yang ada di Veda Hindu bukan Veda yang
    dibuat Agama lain.
    3.Harus meminta ijin dari Sri Krishna , Dewa Siwa , Dewa Ganesha , Bhagawan Byasa, Lima Pandawa , Kurusetra , Bhisma dan Para Prajurit di Medan Tempur
    4.Cerita tidak boleh lain dari yang Ada di Sutra Veda.
    5.Peraturan Tidak boleh Dilanggar kalau dilanggar akan mendapatkan sanksi dari Dewa Siwa,Dewa Ganesha,Bhagawan Byasa,Sri Krishna,Para
    Pandawa , Kurusetra.

    Reply
  6. manami

    emang benar bahwa dewasa ini banyak anak muda yang tak mencintai kebudayaannya sendiri ,beberapa hari lalu teenku kusarankan membeli batik di kios keluargak dan jawab mereka memakai batk itu kuno atau terlihat seperti orang tua,mendengar itu rasanya aku langsung ngomel dalam hati gimana kebudayaan kita tak di klaim kita yang memliki namun bukan kita yang mencintai ,tapi tak semua orang tak suka kebudayaan wayang kok buktinya aku juga masih nyari dan juga suka komik wayang ,dan sekarang aku lagi nyari salah satu seri yang ga sempat kebeli,komik wayang yang di punya keluargaku hanya mahabarata ,ramayana ,dan ada satu lagi cerita ramayana dan bharatayuda

    Reply
  7. salsabila

    saya sangat suka mahabharata dan ramayana…apalagi jika dibuat dalam bentuk buku…terimakasih infonnya..dan satu lag..sangat bangga terhadap budaya indonesia..kenapa anak muda sekrang malah meremehkannya,..dan membangga banggakan budaya negara lain yang belum tentu sebaik kita dan tidak memiliki pesan moral untuk diterapkan dikehidupan sehari hari??”CAMKAN ITU BAIK BAIK”

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s