Sri Rama, Dewi Sinta, dan Kesetiaan

Ada yang berbeda pagi itu dari biasanya. Sri Rama memerintahkan para hulubalang untuk berkumpul dikedaton Pancawati, nampak-nampaknya ada hal genting yang akan diutarakan oleh titisan Batara Wisnu ini. Para hulubalang dan senapati berkumpul semua untuk mendengarkan dengan saksama ada apa dengan panggilan ini. Setelah semua berkumpul dengan diabsen terlebih dahulu mulai dari raden Anggada, Cucakrawa, hingga Kapi Saraba lengkap barulah Sri Rama memasuki ruangan dengan penuh kewibawaan. Seperti biasa karena para rakyat ini adalah kera dan berbagai penghuni kebun binatang, maka tentu saja semua menerka-nerka apa yang akan dibicarakan oleh Sri Rama kelak. Semua seperti suporter bola dilapangan mengomentari apa yang akan terjadi dengan Sri Rama dengan sebab memanggil mereka masuk kedaton.

Kewibawaan dari Sri Rama membuat atmosfir ruang sidang kedaton tampak takjub, tapi ada yang tak biasa dengan Sri Rama pagi itu. Dia terlihat agak cemas, sedikit pucat, dan dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.

Maafkan aku para rakyat Pancawati, ada sesuatu hal yang ingin kubicarakan dengan kalian semua. Istriku yang aku cintai saat ini ditawan oleh Prabu Rahwana di Alengka, hatiku bergejolak batinku berteriak bagaimana keadaannya disana, jauh dari suaminya yang belum pernah “mendekatinya”…aku sangat khawatir” dengan tatapan sayu.

Para hadirin di kedaton langsung menutup rapat-rapat mulut mereka. Suara sunyi seperti biasa manakala seorang pembesar (apalagi titisan dewa sekaliber Wisnu) menyampaikan keluh kesah hatinya pada para pembesarnya. Dan beliaupun melanjutkan pidatonya:

Aku ingin salah satu dari kalian menjadi telik sandiku menuju Alengka Dirja untuk memeriksa keadaan Dewi Sinta putri Mantili bagaimana keadaannya. Apakah dari kalian bersedia ?”

Suasana semakin sunyi dan senyap, suara ribut-ribut yang laksana lapangan bolapun mendadak hilang dari peredaran. Ucapan dan komentar ngalor-ngidul para hulubalang yang tadinya menerka apa yang akan diucapkan Sri Rama dengan penuh keyakinan dan tidak melihat situasi mendadak hilang sampai-sampai suara nafas orang dikiri dan kanan terdengar. Melihat keadaan ini, Sri Ramapun bertanya kembali:

Mengapa kalian terdiam ? Anggada sang putra Resi Subali ? Paman Sugriwa ? Mengapa tidak ada yang menjawab pertanyaanku ?”.

Melihat keadaan seperti itu munculah seorang kera berbulu putih dengan tatapan tajam yang tidak diperhitungkan sebelumnya, langkah datar dan pasti serta penuh dengan aura kepahlawanan maju kedepan sidang tersebut. Dengan perkataan halus dan penuh keberanian serta diimbangi dengan etika, berkatalah:

Ampuni hamba paduka Rama, hamba sanggup untuk pergi ke Alengka untuk menunaikan tugas dari Prabu Ayodhya…” sambil menundukan pandangan kepada Rama.

Melihat itu Ramapun takjub dan terlihat sumringah mendengarkan jawaban tegas dari Anoman akan pertanyaanya itu. Dan bersabdalah Rama:

Wahai Anoman, aku takjub dengan keberanianmu, pergilah engkau ke Alengka untuk mengemban misi dariku. Carilah dan amati bagaimana keadaan Dewi Sinta, jika engkau bertemu dengan Dewi Sinta, pakaikanlah cincin dariku ini kepadanya dan setelah itu kembalilah engkau ke markas Pancawati ini. Apabila engkau tertangkap maka Departemen Luar Negeri Pancawati tidak akan mengakui aksimu disana, pesan ini akan hilang setelah engkau menghendakinya

Anomanpun mohon pamit kepada titisan Batara Wisnu itu. Seperginya Anoman, Rama kembali termenung. Dia mengingat peristiwa bagaimana perjuangan dia untuk mendapatkan Sinta, mematahkan gandewa keramat raja Mantili. Tetapi tiba-tiba terjadi gempa bumi yang membuat Rama terbangun dari renungannya.

Ada apa ini paman Sugriwa ? mengapa  terjadi suara gemuruh gunung longsor dan goncangan di Mayapada ini ? apakah karena ada serangan raja seberang sana ?”

Sugriwapun menjawab,

Anoman berulah paduka, maafkan hamba, maksud hamba adalah Anoman tidak bisa mengambil batu loncatan untuk menyebrangi lautan yang memisahkan Pancawati dengan Alengka

Dan Ramapun dengan keheranan menjawabnya,

Oh begitu, baiklah aku akan menemui Anoman didepan, engkau turut serta denganku Sugriwa”.

Ternyata banyak bukit longsor, pohon-pohon tumbang dan batu-batu pecah akibat loncatan dari Anoman. Entah mengapa akibat hentakan Anoman tersebut Mayapada menjadi rusak berantakan. Dan hal itu pula yang menyebabkan Anoman juga bingung sendiri bagaimana caranya agar dia sampai keseberang sana.

Anoman, naiklah engkau keatas telunjukku dan hentakkan agar engkau dapat mempunyai batu loncatan kenegeri Alengka itu.”

Dengan memohon amit, Anoman menaiki telunjuk Rama dan sepenglihat mata akhirnya Anoman melesat keangkasa guna menuju Alengka menemui Sinta. Laksana busur panah akhirnya Anoman ibarat stringer dengan cepat menuju Alengka dan mendarat tepat disisi pantai Alengka. Namun tiba-tiba Anoman melihat seorang raksasa penjaga hutan Alengka yang bernama Taksaka dengan memegang magnum dan bazoka sedang tertidur. Memang dasar usil, Anomanpun mengerjai dia hingga terbnagun dari tidur sehingga adu tanding dan tentu saja dimenangkan oleh Anoman. Dengan sigap Anoman menaiki pohon tertinggi dan melihat sekitar negeri Alengka. Setelah mengetahui ruangan Sinta, anoman melakukan face off menjadi seekor monyet berbulu abu-abu halus agar tidak diketahui. Dengan berbagai peralatan canggih seperti uplink, tranquilizer gun, hingga wolfram p99 sudah dia siapkan untuk misi tersebut. Dengan mudah Anoman memasuki ruangan yang Dewi Sinta disekap. Untuk mengelabui penjaga yang dipegangi peralatan standar macam revolver, Anomanpun mencari ide. Seketika lewatlah dari kejauhan dayang yang akan mengantarkan masakan untuk Sinta. Tanpa pikir panjang, bersenandunglah Anoman terhadap dayang tersebut:

Mungkinkah bila kubertanya pada bintang-bintang. Dan bila kumulai merasa bahasa kesunyian…”

Mak bedunduk mendengar ada suara tersebut, dayangpun kaget setengah mati sambil gocelan tiyang listrik disampingnya. Karena melihat ada monyet unik, maka dayangpun membawa monyet tersebut kepada Sinta. Melihat ada keanehan pada monyet itu Sintapun menyuruh dayang pergi.

Aku tahu kamu bukan monyet biasa, coba buka dulu topengmu, buka dulu topengmu biar kulihat wajahmu…” ucap titisan Dewi Lakhsmi ini.

Dan Anomanpun melepas topengnya dan beruwjud seperti sedia kala.

Ampun gusti, hamba adalah utusan Sri Rama dari Ayodya yang mana merupakan suami tuan puteri Mantili. Hamba diutus untuk melihat keadaan tuan puteri dan melaporkannya kembali kepada paduka Rama. Hamba disuruh memberikan cincin ini pada tuan putri”.

Dengan tidak banyak cakap dan banyak analisis, Sintapun memasukannya kedalam jarinya. Ternyata Sinta bingung kenapa cincin tersebut tidak dapat masuk. Rupanya dia salah memasukannya kedalam jempol tangannya. Setelah dimasukan kedalam jari manisnya, maka cincin itu dapat menghiasi tangannya. Setelah melihat Anoman bahwa cincin itu berhasil masuk dengan sempurna dan menanyakan apakah Anoman sakit mata sehingga kualitas gambar didepan matanya blur atau tidak, Sinta berkata:

Man….. kembalilah kepada Rama dan ceritakan padanya tentang tegarnya kita, walau batu karang menghadang jalan bersama kita terjang.”

Dan setelah mendapat titah itu, maka Anoman cabut dari sana. Setelah membuat kekisruhan yang menyebabkan seluruh negeri Alengka kebakaran karena ulah Anoman, maka ia kembali ke Pancawati melaporkan pada Rama.

Lapor ndan ! mission complete, laporan selesai” sambil menyerahkan rekaman video bahwa cincin itu bisa masuk dengan gampang kedalam jari manis Sinta, walaupun pertamanya Rama agak shock kok cincinnya ndak bisa masuk dan ternyata Sinta memasukannya pada jempolnya.

Singkat cerita, maka Rama membuat Tambak Setu Bandalayu sehingga akhirnya terjadi peperangan antara Rama dan Rahwana. Akhirnya Sinta dapat bebas. Tetapi suatu hari dipanggilah Trijata oleh Rama.

Trijata, suruhlah Sinta untuk mandi penyucian sebelum bertemu denganku kelak, dan sampaikan salamku terhadapnya”.

Dengan perasaan bingung, maka Trijata kembali menghadap Sinta dan menceritakan kejaian itu kepadanya. Dengan penuh linangan air mata Trijata menceritakan maksud manid penyucian itu. Dengan arif, Sinta berkata pada Trijata:

Trijata tak usah engkau bersedih hati, aku tahu maksud dari Rama mengapa begitu kepadaku. Apalagi aku berada dibawah kekuasaan Rahwana sekian lama, tentulah Rama menyangsikan kesucianku ditambah dengan kabar tak sedap bahwa aku telah direnggut kesucian diriku oleh Rahwana, biarkan mandi penyucian itu yang membuktikan apakah aku bersalah atau tidak…wahai Trijataku”.

Ketika saatnya tiba, alun-alun penuh sesak dengan para rakyat yang hendak menyaksikan penyucian itu. Dengan penuh tangis rakyatpun melihat Sinta dengan penuh kepasrahan menaiki panggung untuk loncat kedalam kobaran api yang dahsyat laksana Agni mengamuk itu. Di dalam hati Sintapun berkata

biarkanlah pembuktianku ini yang menjelaskan apakah aku seperti pikiran mereka atau tidak…aku pasrahkan semuanya kepada engkau dewataku dan semoga kebenaran segera terungkap. Orang hanya melihat dari apa yang tampak pada diri mereka saja, tetapi akulah yang lebih mengetahui dalam diriku ini…dan rasanya tak mungkin aku membuat kabar untuk disebarluaskan bahwa aku tidak melakukannya

Sebagai permulaan ketika akan melompat, Sintapun menatap Rama dengan penuh hormat sebagai istri dan seketika itupun dia loncat kedalam jilatan api. Susana menjadi hening. Semua teringat kenangan bahagia bersama Sinta. Laksamana ketika bersenda gurau dengan Sinta. Rama ketika saling menyuapi ketika dihutan sampai pengorbanan Jatayu. Suasana hening dan isak tangis rakyat melihat Sinta mengorbankan dirinya. Anomanpun teringat ketika dia berjumpa dengan Sinta dan bercakap-cakap dengan puteri jelita itu.

Suasana tiba-tiba berubah, munculah cahaya terang menyilaukan dari kobaran api. Tiba-tiba muncullah Sinta dengan menaiki singgasana emas dan taburan berlian lainnya mendekati Rama yang sejak awal begitu awas. Setelah itu turunlah Sinta dari singgasana itu dan berucap kepada Rama:

janganlah karena nafsumu menimbulkan kalahnya akal sehatmu, kepercayaanmu, kesetiaanmu, dan kecintaanmu kepadaku kakanda”.

Setelah itu Ramapun memeluk Sinta dan seluruh rakyat bersorak-sorak akan bertemunya insan yang dipisahkan oleh angkara murka. Para dewapun bersorak akan bersatunya Wisnu dan Laksmi serta keberhasilannya menumpas angkara murka Prabu Rahwana di Mayapada. Tak lama kemudian Anoman dan Trijatapun terikat cinta dan hidup bersama seperti Rama dan Sinta.

7 thoughts on “Sri Rama, Dewi Sinta, dan Kesetiaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s