Satria dengan Trisula Weda

April 13, 2010 at 2:58 am (ilmu, masyarakat) (, , , , , , )

Siapa yang tidak mengenal Prabu Jayabaya dari Kediri. Raja yang memiliki semacam nubuwat atau ramalan akan nasib bangsa Indonesia dihari akan datang ini, ternyata pernah memberikan sebuah ramalan akan munculnya seorang satria piningit yang bersenjatakan trisula. Raja Jayabaya memang terkenal dengan ramalan-ramalan yang belum bisa diterima masyarakat pada zamannya seperti kemunculan pesawat, perempuan yang berlaku seperti laki-laki, banyak anak hasil hubungan zinah, pelanggaran terhadap hukum agama, dan pembangkangan istri terhadap suami. ada ramalan yang sepertinya agak dilupakan dari keseluruhan ramalan tersebut, yaitu muncul seorang satria yang memiliki senjata trisula pemberian dewa yang mana akan menguasai Indonesia dengan adil, jujur, dan berwibawa sehingga seluruh masyarakat akan ikhlas dipimpin olehnya.

Mari kita simak ramalan Jayabaya tersebut:

selet-selete yen mbesuk ngancik tutuping tahun, sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu, bakal ana dewa ngejawantah apengawak manungsa, apasurya padha bethara Kresna,  awatak Baladewa agegaman trisula wedha jinejer wolak-waliking zaman wong nyilih mbalekake, wong utang mbayar utang nyawa bayar nyawa utang wirang nyaur wirang

Kurang lebih berarti: Selambat-lambatnya menjelang akhir tahun, akan muncul seorang dewa berbadan manusia, yang berwajah seperti Batara Kresna, berwatak seperti Baladewa, mempunyai senjata trisula wedha, tanda datangnya perubahan zaman, orang pinjam mengembalikan, orang hutang membayar, hutang nyawa dibayar nyawa, hutang malu dibayar malu.

Selanjutnya masih dalam ramalan tersebut:

mula den upadinen sinatriya iku, wus tan abapa, tan bibi, lola, awus aputus weda Jawa, mung angandelake trisula
landheping trisula pucuk
, gegawe pati utawa utang nyawa, sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan, sing pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda

Yang kurang lebih berarti: Oleh sebab itu, carilah satria itu, yatim piatu, tak bersanak saudara, sudah lulus wedha Jawa dan hanya berpedoman pada trisula, ujung trisulanya sangat tajam, mmebawa maut atau utang nyawa, yang tengah pantang merugikan orang lain, yang dikiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan.

Masih pada ramalan tersebut:

iki dalan kanggo sing eling lan waspada, ing zaman kalabendu Jawa, aja nglarang dalem ngleluri wong apengawak dewa, cures ludhes saka braja jelma kumara, aja-aja kleru pandhita samusana larinen pandhita asenjata trisula wedha, iku hiya pinaringaning dewa

yang bermakna: Ini adalah jalan bagi orang yang ingat dan waspada, pada zaman kalabendu* Jawa, jangan melarang orang yang mengormati orang seperti dewa, yang akan menghalangi sirna seluruh keluarga, jangan kleiru mencari dewa, carilah dewa bersenjata trisula wedha, itulah pemberian dewa.

Pada bait terakhir tertulis ciri-ciri satria yang bersenjatakan wedha tersebut, atau lebih tepat berkepribadian dia:

nglurug tanpa bala, yen menang tan ngasorake liyan, para kawula padha suka-suka, marga adiling pangeran wus teka, ratune nyembah kawula, angagem trisula wedha, para pandhita hiya padha muja, hiya iku momongane kaki Sabdopalon, sing wis adu wirang nanging kondhang, genaha kacetha kanthi njingglang, nora ana wong ngresula kurang, hiya iku tandane kalabendu wis minger, centi wektu jejering kalamukti, andayani indering jagad raya padha asung bhekti

yang berarti: menyerang tanpa pasukan, dan kalau menang tidak menistakan yang lain, rakyat bersuka ria, karena Yang Kuasa telah tiba, raja menyembah rakyat, bersenjatakan trisula wedha, para pendeta memuja-mujinya, dia itu adalah asuhan dari Sabdopalon, yang menanggung malu tetapi menjadi terkenal, semuanya tampak terang benderang, tak ada yang mengeluh kekurangan, itulah tanda zaman kalabendu telah usai, memperkokoh tatanan jagad raya, semua menaruh rasa hormat yang tinggi.

Adapun ramalan secara globalnya:

Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran.
Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
One day there will be a cart without a horse.
(Kereta Apikah ?)

Tanah Jawa kalungan wesi.
Tanah Jawa berkalung besi.
The island of Java will wear a necklace of iron.

Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang.
Perahu berlayar di ruang angkasa.
There will be a boat flying in the sky.
(Pesawatkah ?)

Kali ilang kedhunge.
Sungai kehilangan lubuk.
The river will loose its current.

Pasar ilang kumandhang.
Pasar kehilangan suara.
There will be markets without crowds.
(Supermarketkah ?)

Iku tandha yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak.
Itulah pertanda jaman Jayabaya telah mendekat.
These are the signs that the Jayabaya era is coming.

Bumi saya suwe saya mengkeret.
Bumi semakin lama semakin mengerut.
The earth will shrink.

Sekilan bumi dipajeki.
Sejengkal tanah dikenai pajak.
Every inch of land will be taxed.

Jaran doyan mangan sambel.
Kuda suka makan sambal.
Horses will devour chili sauce.

Wong wadon nganggo pakeyan lanang.
Orang perempuan berpakaian lelaki.
Women will dress in men’s clothes.

Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman.
Itu pertanda orang akan mengalami jaman berbolak-balik.
These are signs that the people is facing the era of turning upside
down.

Akeh janji ora ditetepi.
Banyak janji tidak ditepati.
Many promises unkept.

Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe.
Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
Many break their oath.

Manungsa padha seneng nyalah.
Orang-orang saling lempar kesalahan.
People will tend to blame on each other.

Ora ngendahake hukum Allah.
Tak peduli akan hukum Allah.
They will ignore God’s law.

Barang jahat diangkat-angkat.
Yang jahat dijunjung-junjung.
Evil things will be lifted up.

Barang suci dibenci.
Yang suci (justru) dibenci.
Holy things will be despised.

Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit.
Banyak orang hanya mementingkan uang.
Many people will become fixated on money.

Lali kamanungsan.
Lupa jati kemanusiaan.
Ignoring humanity.

Lali kabecikan.
Lupa hikmah kebaikan.
Forgetting kindness.

Lali sanak lali kadang.
Lupa sanak lupa saudara.
Abandoning their families.

Akeh bapa lali anak.
Banyak ayah lupa anak.
Fathers will abandon their children.

Akeh anak wani nglawan ibu.
Banyak anak berani melawan ibu.
Children will be disrespectful to their mothers.

Nantang bapa.
Menantang ayah.
And battle against their fathers.

Sedulur padha cidra.
Saudara dan saudara saling khianat.
Siblings will collide violently.

Kulawarga padha curiga.
Keluarga saling curiga.
Family members will be suspicious of each other.

Kanca dadi mungsuh.
Kawan menjadi lawan.
Friends become enemies.

Akeh manungsa lali asale.
Banyak orang lupa asal-usul.
People will forget their roots.

Ukuman Ratu ora adil.
Hukuman Raja tidak adil
The ruler’s judgments will be unjust.

Akeh pangkat sing jahat lan ganjil.
Banyak pembesar jahat dan ganjil
There will be many peculiar and evil leaders.

Akeh kelakuan sing ganjil.
Banyak ulah-tabiat ganjil
Many will behave strangely.

Wong apik-apik padha kapencil.
Orang yang baik justru tersisih.
Good people will be isolated.

Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin.
Banyak orang kerja halal justru malu.
Many people will be too embarrassed to do the right things.

Luwih utama ngapusi.
Lebih mengutamakan menipu.
Choosing falsehood instead.

Wegah nyambut gawe.
Malas menunaikan kerja.
Many will be lazy to work.

Kepingin urip mewah.
Inginnya hidup mewah.
Seduced by luxury.

Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka.
Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
They will take the easy path of crime and deceit.

Wong bener thenger-thenger.
Si benar termangu-mangu.
The honest will be confused.

Wong salah bungah.
Si salah gembira ria.
The wrong doers will be very happy
.

Kalau kita melihat sekilas, ada penekanan terhadap “senjata trisula wedha” yang akan dipakai oleh sang satria tersebut. sebagian kalangan meramalkan bahwa satria tersebut menggunakan kekuatan darat, laut, dan udara seperti kekuatan Tentara Nasional Indonesia sehingga dapat menguasai keadaan sebuah negeri. Pada ramalan perihal paras dan watak, disebutkan bahwa dirinya berparas seperti Kresna dan berwatak seperti Baladewa. Kresna sendiri dalam pewayangan merupakan titisan Batara Wisnu yang menjadi penasihat perang Pandawa Lima dalam perang Bharatayudha dengan kulit yang hitam, mungkin saja sang satria ini memiliki keahlian strategi seperti Kresna dalam pewayangan. Wataknya seperti Baladewa yang keras, keras disana juga multitafsir, bisa juga diartikan sebagai orang yang berada di jalan yang lurus tidak perduli kiri dan kanan ditambah ramalan di bawahnya “sing pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda” yang tidak peduli dengan pencurian atau sejenisnya, mungkin dalam konteks kekinian adalah, satria tersebut tidak korup di dalam pemerintahan.

Satria tersebut digambarkan seseorang yang lurus, jujur, dan mengayomi segenap rakyat sehingga tokoh agama (pandhita) memujinya karena konsistensinya menegakkan kebenaran. Trisula wedha sendiri saya belum menemukan sebuah tafsiran yang pas mengenainya, tapi tidak menutup kemungkinan di era web 2.0 orang tersebut bersenjatakan: world wide web bukan ? :D

*Zaman Kalabendu berarti zaman yang tidak menentu

35 Comments

  1. Winarto said,

    Zaman e jaman edan http://winarto.in/2009/11/jamane-wis-edan/ atau zaman kaliyuga kalau orang Bali bilang

  2. ajengkol said,

    Jaman e jaman bubrah yen bener malah di darani bubrah *halah* ngomong opo to aku

  3. Andi Eko said,

    Iki Jayabaya punya kalender sampai tahun berapa ya .. kok punya ramalan sampe segitunya .. kayak mirip peramal suku 2x di amrik sono ya …

  4. masrobertk said,

    wah lengkap n kumplittt….

  5. ardian eko said,

    Doh, kesimpulane koq web 2.0.. hehehe..
    Lha kalo kediri ada jayabaya,, putrinya siapa?? apa putri sekartaji?
    *garuk2 kepala*

  6. Yuliana Prastika Pertiwi said,

    @ardian eko, Iyaa donk..Putri sekartaji yang cantik jelita imut dan baik hati….Kalo putri solo emang ada yaa??

  7. norikosatrya said,

    MAS , senjata TRISULA WEDA adalah TIGA WEJANGAN DARI ALLAH ( TRISULA = TIGA , WEDA ADALAH SINGKATAN DARI WEJANGAN DARI ALLAH ) YANG BERLAKU UNTUK SELURUH MAHLUK BAIK YANG BERWUJUD MAUPUN YANG TAK BERWUJUD DI BUMI INI DAN SELURUH ALAM SEMESTA , AMIN .

    • Agung said,

      Mas, pengetahuan sampeyan tentang Wedha tidak lengkap tetapi malah berkomentar, jadi aneh, ibaratnya sampeyan menterjemahkan bahasa inggris memakai kamus jepang jadinya keliru jauh, Trisula sudah jelas merupakan senjata pemusnah Dewa Siwa untuk menghancurkan kejahatan dan kesemrawutan manusia jaman ini dan Wedha adalah Kitab suci, jadi jangan diterjemahkan atau ditafsirkan sesuka harti ya, Wedha tidak ada hubungannya dengan Allah tetapi dengan Tuhan secara umum karena Wedha adalah milik seluruh ciptaan Tuhan. Mohon diterima dengan lapang dada bila ada istilah diluar agama sampeyan, jangan dipaksakan untuk dicocokkan. Tepo seliro yo…..
      Suwun

  8. arifin said,

    trisula wedha, menurut pikiran saya adalah Iman, Islam, Ihsan karena ada kata wedha berarti mengacu pada Kitab Suci= Al Qur’an. Sisi Iman adalah tajam dan tidak bisa dikompromikan, sisi Islam perbuatan dan pembeda dengan tegas jalan Allah yang lurus dan jalan syaithan yg sesat dan dimurkai, sisi ihsan adalan pengamalan yang utuh dan bermasyarakat yang baik yang mengayomi dan melindungi hidup yang silih asah, silih asih adn silih asuh.
    Orangnya seperti kresna dan bertabiat baladewa, bisa mempunyai makna bahwa kresna titisan dewa, yang berarti ada darah keturunan orang besar atau ulama besar, bertabiat baladewa, bisa berarti ornganya tegas dan hanya tunduk pada kemauan dewa, atau taat akan ajaran Allah yang disampaikan melalui Rasulullah yi ajaran dan perbuatan yang dicontohkan rasulullah dan sahabat utamanya dan penerus para ulama yang lurus, jujur dan mencintai umatnya, tegas dalam membedakan yang benar dan salah dan tidak diperjual-belikan. Karena itu baladewa waktu akan perang besar baratayudha dikurusetra, baladewa yg berada diposisi hastina, meninggalkan hastina untuk pergi dan tidak ikut perang. ini menunjukkan baladewa secara moral berpihak kepada pandawa yg benar dan meninggalkan astina sbg lambang angkara murka. Bisa saja orang ini ada dipihak atau berada pada posisi yg berpihak pd gonjang-ganjing atau para penguasa korup dan sewenang-wenang dalam melaksanakan pemerintahan dan dalam menegakan hukum, namun dia tidak mau ikut2an, dia lebih baik menghindarkan diri dan berpihak kepada yang benar, yi kepada para pembela kejujuran dan beramal saleh, yang kini sedang bertapa, atau diam dan berdoa. wallahu’alam.

  9. arifin said,

    yang berarti: menyerang tanpa pasukan, dan kalau menang tidak menistakan yang lain, rakyat bersuka ria, karena Yang Kuasa telah tiba, raja menyembah rakyat, bersenjatakan trisula wedha, para pendeta memuja-mujinya, dia itu adalah asuhan dari Sabdopalon, yang menanggung malu tetapi menjadi terkenal, semuanya tampak terang benderang, tak ada yang mengeluh kekurangan, itulah tanda zaman kalabendu telah usai, memperkokoh tatanan jagad raya, semua menaruh rasa hormat yang tinggi.
    Mungkin zaman sekarang zaman kalabendhu . nanti akan berakhir dengan munculnya orang dgn ciri bersenjatakan trisula wedha, yg menyerang tanpa pasukan, berati bukan tentara, bila menang tidak menghinakan yg kalah, rakyat merasa senang, karena pemimpin yg baik telah datang, para pejabat menghormati hak2 rakyat dan melaksanakan kewajiban sebagai abri rakyat, jujur dan pengabdian kepada tugas, didukung oleh para tokoh agama. Dia iatu asuhan sabdha palon, yi asuhan suara wangsit/ suara hati nurani, artinya suara kebenaran. Pernah diperlakukan yg membuat malu atau dipermalukan/ difitnah, namun karenanya menjadi terkenal, setelah ia diklarifikasi ternyata fitnah tersebut tidak benar. Bhw dia sesungguhnya orang jujur dan berjasa, dalam menjalani hidup akibat fitnahan itu, dia tdk pernah mengeluhkan kekurangan walaupun pasti mengalami kesulitan hidup, dia selalu mununjukan sifat bersyukur dan menjalaninya dengan ikhlas dan pasrah kepada Tuhan. dan apabila orang tersebut telah muncul, maka zaman kalabendu segera berakhir, dan zaman keemasan RI mulai berjaya lagi. Insya Allah. terimakasih, wallahu a’lam

  10. arifin said,

    yang berarti: menyerang tanpa pasukan, dan kalau menang tidak menistakan yang lain, rakyat bersuka ria, karena Yang Kuasa telah tiba, raja menyembah rakyat, bersenjatakan trisula wedha, para pendeta memuja-mujinya, dia itu adalah asuhan dari Sabdopalon, yang menanggung malu tetapi menjadi terkenal, semuanya tampak terang benderang, tak ada yang mengeluh kekurangan, itulah tanda zaman kalabendu telah usai, memperkokoh tatanan jagad raya, semua menaruh rasa hormat yang tinggi.
    Mungkin zaman sekarang zaman kalabendhu . nanti akan berakhir dengan munculnya orang dgn ciri bersenjatakan trisula wedha, yg menyerang tanpa pasukan, berati bukan tentara, bila menang tidak menghinakan yg kalah, rakyat merasa senang, karena pemimpin yg baik telah datang, para pejabat menghormati hak2 rakyat dan melaksanakan kewajiban sebagai abdi rakyat, jujur dan pengabdian kepada tugas, didukung oleh para tokoh agama. Dia itu asuhan sabdha palon, yi asuhan suara wangsit/ suara hati nurani, artinya suara kebenaran. Pernah diperlakukan yg membuat malu atau dipermalukan/ difitnah, namun karenanya menjadi terkenal, setelah ia diklarifikasi ternyata fitnah tersebut tidak benar. Bhw dia sesungguhnya orang jujur dan berjasa, dalam menjalani hidup akibat fitnahan itu, dia tdk pernah mengeluhkan kekurangan walaupun pasti mengalami kesulitan hidup, dia selalu mununjukan sifat bersyukur dan menjalaninya dengan ikhlas dan pasrah kepada Tuhan. dan apabila orang tersebut telah muncul, maka zaman kalabendu segera berakhir, dan zaman keemasan RI mulai berjaya lagi. Insya Allah. terimakasih, wallahu a’lam

  11. arifin said,

    kalabendhu itu bisa dartikan kemarahan waktu, atau waktu yg penuh angkara murka, banyak kejahatan dan ksewenag-wenangan, kebenaran menurutkan hawa nafsu manusia, yg terkadang bisa lebih angkara daripada binatang dan sama sekali tidak merujuk kepada kebenaran menurut ajaran Tuhan, atau ajaran agama. Agama atau ajaran kebenaran tidak dijadikan dasar kekuatan dan rujukan hukum dan acuan kebenaran dalam penegakkan hukum dan menjalankan pemerintahan, akibatnya khalayak banyak teraniaya, penganjur kejahatan dianggap dan diperlakukan kawan, kebohongan dan kepalsuan dijadikan dasar tindakan hukum dan akibatnya rakyat dan hamba sahaya sangat ternista dan teraniaya, hak2nya dihancurkan dan dimana-mana diseantero jagat perlakuan ketidak adilan merajalela.
    Kita berdoa semoga Allah SWT segera menurunkan orang yg menegakkan kebenaran dan membela rakyat dan anak bangsa yang teraniaya dimuka bumi ini. Dan para penjahat dan penolong kejahatan segera dihancurkan dan dihukum dengan adil.
    Sang Ratu Adil segera datang dengan musnahnya si Angkara Murka. Semoga zaman angkara murka ini segera berlalu. Semoga pendekar dengan trisulawedha segera muncul. Amin.

    • Mbah jarwo said,

      @Mas Arifin:
      Sblumnya saya minta maaf kalo ada kesalahan kalimat saya,
      Di dalam Serat Darmogandhul diceritakan episode perpisahan antara Sabdo Palon
      dengan Prabu Brawijaya karena perbedaan prinsip. Sebelum berpisah Sabdo Palon
      menyatakan kekecewaannya dengan sabda-sabda yang mengandung prediksi tentang
      sosok masa depan yang diharapkannya. Berikut ungkapan-ungkapan itu :Sabdo Palon :
      “Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan,
      irib-iriban, rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula êmong, kula wirang dhatêng
      bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang
      mripat satunggal, botên rêmên momong paduka. … Manawi paduka botên pitados, kang
      kasêbut ing pikêkah Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah
      wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula, …”(“Paduka
      sudah terlanjur terperosok, mau jadi orang jawan (kehilangan jawa-nya),
      kearab-araban, hanya ikut-ikutan, tidak ada gunanya saya asuh, saya malu kepada
      bumi dan langit, malu mengasuh orang tolol, saya mau mencari asuhan yang bermata
      satu (memiliki prinsip/aqidah yang kuat), tidak senang mengasuh paduka.
      … Kalau paduka tidak percaya, yang disebut dalam ajaran Jawa, nama Manik Maya
      (Semar) itu saya, yang membuat kawah air panas di atas gunung itu semua
      adalah saya, …”)
      “….. Paduka yêktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Buddha,
      turun paduka tamtu apês, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut bangsa
      sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang
      mangrêti.”(“….. Paduka perlu faham, jika sudah berganti agama Islam,
      meninggalkan agama Budha, keturunan Paduka akan celaka, Jawi (orang Jawa yang
      memahami kawruh Jawa) tinggal Jawan (kehilangan jati diri jawa-nya), Jawi-nya
      hilang, suka ikut-ikutan bangsa lain. Suatu saat tentu akan dipimpin
      oleh orang Jawa (Jawi) yang mengerti.”
      “….. Sang Prabu diaturi ngyêktosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng
      tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon, wong jawan arêp diwulang
      wêruha marang bênêr luput.”(“….. Sang Prabu diminta memahami,
      suatu saat nanti kalau ada orang Jawa menggunakan nama tua (sepuh),
      berpegang pada kawruh Jawa, yaitulah yang diasuh oleh Sabda Palon, orang Jawan
      (yang telah kehilangan Jawa-nya) akan diajarkan agar bisa
      melihat benar salahnya.”)
      Dari dua ungkapan di atas Sabdo Palon mengingatkan Prabu Brawijaya bahwa
      suatu ketika nanti akan ada orang Jawa yang memahami kawruh Jawa (tiyang Jawi)
      yang akan memimpin bumi nusantara ini. Juga dikatakan bahwa ada saat nanti
      datang orang Jawa asuhan Sabdo Palon yang memakai nama sepuh/tua (bisa jadi
      “mbah”, “aki”, ataupun “eyang”) yang memegang teguh kawruh Jawa akan mengajarkan
      dan memaparkan kebenaran dan kesalahan dari peristiwa yang terjadi saat itu dan
      akibat-akibatnya dalam waktu berjalan.
      Menurut saya Kalimat-kalimat anda mencermikan kalo anda di dalam posisi prabu brawijaya,benar kan??(kearab-araban)
      Mohon maaf kalo kata-kata saya bila kurang berkenan dihati anda.

      Wasssalam,

      • Mbah jarwo said,

        Meripat setunggal =Tuhan Yang Maha Esa atau dengan nama lain;
        Allah/Sang hyang Dumadi/sang hyang widhi dsbnya.

  12. adnyana said,

    menurut saya menyerang tampa pasukan adalah orang yang bisa membuat musuh kalah dengan menyingkap dengan data dan fakta tampa menggunakan kekuatan fisik. tapi mengalahkan musuh dengan pikiran ilmiah jujur,tegas ,dan sesuai fakta. dan kemungkinan orang tersebut adalah ilmuan yang jujur

  13. Shivor said,

    ALLAH HYANG MAHA AGUNG

  14. GoldenVhisnu13 said,

    Terkait senjata TRISULA WEDA, memang ada orang yang punya dijidatnya, tapi jaman sekarang semua perlu dikaji dengan logika dan qolbu yang ikhlas. Yang penting di masa depan saudara-saudara kita tidak menganggur & cari makan secara sportif, memperoleh kecerdasan berpikir & berperilaku, priyayinya beretika, hak & kewajibannya diayomi sebagai pribumi yang utuh.

  15. hira said,

    trisula = Kekuatan militer
    Wedha = Hati nurani
    jadi memimpin militer dengan hati nurani.

  16. Nabi Agama Buddhi said,

    trisula wedha itu semua orang tahu artinya.

  17. kudaputih said,

    wahai sodara-2 q, trisula wedha bukanlah pusaka yg berwujud gaman atau senjata, tp berwujud ukoro atau ajaran suci yg berdasar pd 3 hal : kebenaran, kejujuran, dan kebranian, sama spt bendera nkri merah-putih yg maksudnya serupa, senjata tsb tdk akan kalah oleh jaman, dimana tempat dimana waktu pasti bisa digunakan….

  18. Rahasia said,

    semoga semua kebaikan dan kebenaran ramalan menjadi kenyataan

  19. Zulpan martin said,

    Ass, orang tersebut sudah ada dimedan dia adalah titisan wisnu

  20. Bhinna Bhyantara said,

    beberapa orang buta bertemu, dan mereka mencoba menterjemahkan serta mencoba mendeskripsikan seperti apa bentuk seekor gajah itu. Seorang memegang kuping gajah tersebut, seorang memegang ekor gajah tersebut, seorang memegang belalai gajah tersebut, dan 4 orang lainnya memegang setiap kaki – kaki gajah tersebut, kira kira komentarnya seperti apa ya?

  21. zhico kokoru said,

    ia menggambarkan gajah sesuai bagian-bagian yg dipegangnya. misalnya gajah akan digambarkan berbentuk lonjong seperti belalai, orng yang memegang telingaakan blg gajah itu lebar, bulat, pipih, bahkan yg memegang ekor akan bilang bentuk gajah seperti cemeti.

    mungkin dari gambaran tentang gajah yg hanya dipahami perbagian bs disimpulkan bahwa kebenaran adalah suatu hal yg besar dan mutlak dari tuhan. kebenaran tuhan (yg digambarkan sbg bentuk gajah sesungguhnya)hanya dapat ditangkap perbagian sja oleh pengetahuan manusia yg terbatas dibandingkan pengrtahuan tuhan.

    jika kemudian manusia yg sama2 memegang hanya bagian tertentu gajah ngotot mengatakan bahwa itu adalah gambaran gajah sesungguhya, maka bisa dibayangkan ketololan apa yg sedang diperdebatkanya. kalau saja masing masing orang dengan pengetahuan parsial itu mau menggabungkan apa yang diketahuinya dari bagian2 gajah yang ia pegang,,,akan ada kemungkinan gajah yang sesungguhnya atau paling tidak mendekati sempurna dapat digambarkan dengan benar.
    mgkin itulah gambaran bagaimana kita menggunakan pengetahuan yang berbeda-beda melihat kebenaran sesuatu ( dlm hal ini trisula weda)

  22. pemanah malam said,

    Satu2nya yg diumpetin itu Sulthonul Auliya

  23. Bocah Anon said,

    Trisula World Wide Web :)

  24. satria said,

    Bisa jadi dia bersenjatakan 3 kitab besar: Taurat, Injil dan Al-Qur’an dengan pemahaman yang benar. Kebenaran yang justru akan mendapat pertentangan dari para ulama Taurat, Injil dan Qur’an karena pemahaman yang berbeda dengan apa yang selama ini dipahami oleh umum

  25. sheila said,

    HAhahhaa,,,koprollllllllll

  26. sheila said,

    Komponggggggggggg

  27. maestro said,

    bisa jadi gabungan dari 3 orang

    • maestro said,

      bisa jadi :
      bentuk trisula nonjol tengah yang paling lancip
      adalah pimpinan / presiden,
      kiri-kanan-nya “asisten”-nya

      • maestro said,

        bos-nya : prab-sub ???
        asistennya : jokohok ???

  28. maestro said,

    akhir tahun 2012 beras Rp.10rebu ???
    2013 indonesia carut-mawut ???
    javanese mulai balik ke agama nenek moyangnya hindu-budha ???
    mosok seh ???
    lek sampek kedaden temenan sumpah pengin nangis rasane
    jiancuk ra enak dadi robot, iso diubah gak seh programme ???

  29. KUKUH said,

    Trisula adlah senjata dari PAGAR NUSA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.